Langsung ke konten utama

Kimia Medisinal



ANTI-HISTAMIN


Berdasar strukturnya antihistamin digolongkan menjadi:
                        A. Eter amino alkil (etanolamin eter)
                        B. Etilen diamin
                        C. Turunan Propilamin
                        D.  Antihistamin cincin trisiklik

A.     Derivat Eter amino alkil (etanolamin eter)
Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atom C. Kuarterinisasi nitrogen rantai  samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang kurang aktif.  Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1  pada sekresi eksokrin.
Efek samping pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pem-bantu tidur pada obat tanpa resep.
Golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental.

B.     Derivat Etilendiamin.
Bekerja pada reseptor H1. Antihistamin tipe  piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin. Pada kebanyakan molekul obat adanya  nitrogen kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam mineral.
·         Gugus amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.
·         Elektron bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cin cin aromatik.

 

C.     Derivat Propilamin
Anggota kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral.  Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat. Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1 yang paling aktif. Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.
Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N  faktor penting untuk aktivitas antihistamin.  Gugus pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.

Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atom C. Kuarterinisasi  nitrogen  rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang kurang aktif. 
Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1 pada sekresi eksokrin. Efek samping pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pembantu tidur pada obat tanpa resep. Golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental.

Lets discuss :)
1.      Bagaimana kerja derivat diatas terhadap reseptor histamin ?
2.      Apa Efek samping yang ditimbulkan dari derivat anti histamin etilendiamin ?
3.      Contoh obat  dari derivat anti histamin tersebut ?
4.      Bagaimana dengan bioavailibilitas derivat obat diatas ?
5.      Struktur atau gugus identik apa yang memiliki efek  sebagai antihistamin ?
6. Efek samping anti histamin ?
7. Contoh obat anti histamin H1, H2 ?
8. Mekanisme kerja antihistamin reseptor H2 ?




Komentar

  1. Saya akan mncoba mnjwab prtanyaan no 2 yg kbetulan saya singgung sedikit diblog saya "antihistamin" bhwa es etilendiamin yaitu trjdi penekanan pada CNS dan gastrointestinal. Artinya derivate antihistamin ini dpt mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf od otak.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  2. Saya akan mncoba mnjwab prtanyaan no 2 yg kbetulan saya singgung sedikit diblog saya "antihistamin" bhwa es etilendiamin yaitu trjdi penekanan pada CNS dan gastrointestinal. Artinya derivate antihistamin ini dpt mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf od otak.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  3. Pertanyaan no. 3. Turunan etanolamin eter: difenhidramin, turunan etilendiamin: pirilamin maleat, turunan propilamin: bromfeniramin maleat, antihistamin cincin trisiklik: prometazin.

    BalasHapus
  4. 2. Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya setuju dengan kak yanti, karena etilendiamin dapat mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf

      Hapus
  5. 2. etilendiamin termasuk antihistamin generasi pertama dengan efek samping diantarnya sedation, dizziness, tinnitus, blurred vision, euphoria, lack of coordination, anxiety, insomnia, tremor, nausea and vomiting, constipation, diarrhea, dry mouth, and dry cough

    BalasHapus
  6. 1. kerja derivat terhadap histamin
    mekanismenya dengan menghambat histamin berikatan dengan reseptor H1 atau H2 di organ sasaran. Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1 . Reseptor yang baru tersebut akan diisi oleh antihistamin. Peristiwa molekular ini akan mencegah untuk sementara timbulnya reaksi alergi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau H1 berkaitan dengan alergi sedangkan h2 menghambat sekresi asam lambung

      Hapus
    2. namun biasanya obat antihistamin yang digunakan untuk pengobatan alergi yaitu anti histamin 1, untuk penghambatan sekresi asam sendiri, biasanya untuk maagh akut digunakan PPI

      Hapus
    3. saya sependapat dengan ivo, obat antihistamin untuk pengobatan alergi bersifat antagonis h1

      Hapus
  7. Pertanyaan no.3
    Secara kimiawi, antihistamin terdiri atas beberapa kelompok persenyawaan kimia yang berbeda dan secara garis besar dibagi atas 2 grup, yaitu :

    Generasi I : etolamin (difenhidramin, klemastin, karbinoksamin, doksilamin, dan dimenhidrinat), etilendiamin (pirilamin, tripelenamin, antazolin, dan mepiramin), alkilamin (klorfeniramin dan bromfeniramin), piperazin (hidroksizin, siklizin, dan meklizin), dan fenotiazin (prometazin, mekuitazin, dan trimeprazin).
    Generasi II : alkilamin (akrivastin), piperazin (setirizin), piperidin (astemizol, levokabastin, loratadin, terfenadin, dan fleksofenadi) dan lainnya, yaitu siproheptadin.

    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  8. mencoba mnjawan nmr 3 ya sindi..
    .DERIVAT ETILENDIAMIN (X=N)
    Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki data sedative yang lebih ringan.
    •Antazolin : fenazolin, antistin (Ciba)
    Daya antihistaminiknya kurang kuat, tetapi tidak merangsang selaput lender. Maka layak digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung (selesma) sebagai preparat kombinasi dengan nafazolin (Antistin-Privine, Ciba).
    Dosis: oral 2-4 x sehari 50-100mg (sulfat).
    •Tripelenamin (Tripel, Corsa-Azaron, Organon)
    kini hanya digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal akibat reaksi alergi (terbakar sinar matahari, sengatan serangga, dan lain-lain).
    •Mepirin (Piranisamin)
    Adalah derivate metoksi dari tripelenamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin (Triaminic, Wander) pada hay fever.
    Dosis: 2-3 x sehari 25mg.
    •Klemizol ( Allercur, Schering)
    Adalah derivate klor yang kini hanya digunakan dalam preparat kombinasi anti-selesma (Apracur, Schering) atau dalam salep/suppositoria anti wasir (Scheriproct, Ultraproct, Schering).

    BalasHapus
  9. 3. Derivat Propilamin
    Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya kerja antihistamin yang kuat.
    Feniramin : oral 3 kali sehari 12,5-25 mg (maleat) –> meredakan batuk
    Klorfeniramin
    Deksklorfenoramin
    Triprolin

    BalasHapus
  10. 4. Cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan; 88% dari dosis diabsorpsi.

    BalasHapus
  11. menurut artikel yang saya baca efek samping dari derivat anti histamin etilendiamin adalah dpt mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf od otak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban bilia, jadi penggunaan derivat etilendiamin harus hati-hati karena akan mengganggu sistem pencernaan dan penggunaan jangka panjang lebih baik dihindari

      Hapus
    2. menambahkan sedikit, efek pada aistem pencernaan ini salah satunya menyebabkan tukak lambung, sedangkan pada syaraf menyebabkan efek sedatif

      Hapus
  12. assalamualaikum saya akan menjawab Turunan etanolamin eter: difenhidramin, turunan etilendiamin: pirilamin maleat, turunan propilamin: bromfeniramin maleat, antihistamin cincin trisiklik: prometazin.

    dan jawaban ke 2Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.

    BalasHapus
  13. Derivat Propilamin
    Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya kerja antihistamin yang kuat.
    Feniramin
    Klorfeniramin
    Deksklorfenoramin
    Triprolin

    BalasHapus
  14. nomor 3 yaitu, salah satu contoh obatnya adalah antazolin. efek samping yang ditimbulkan adalah penglihatan kabur dan iritasi mata.

    BalasHapus
  15. no 2 : efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.

    BalasHapus
  16. Pertanyaan no 2
    Efek samping dari antihistamin yaitu :
    Mengantuk.
    Mulut kering atau disfagia.
    Pusing.
    Sakit kepala.
    Nyeri perut.
    Sulit buang air kecil.
    Mudah marah.
    Penglihatan kabur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rahmi? ada juga efek-efek lainya Rahmi..

      Efek Samping Antihistamin: Mengantuk adalah efek samping utama pada sebagian besar antihistamin golongan lama, walaupun stimulasi yang paradoksikal dapat terjadi meski jarang (terutama pada pemberian dosis tinggi atau pada anak dan pada lanjut usia). Mengantuk dapat menghilang setelah beberapa hari pengobatan dan jauh kurang dengan antihistamin yang lebih baru.

      Efek samping yang lebih sering terjadi dengan antihistamin golongan lama meliputi sakit kepala, gangguan psikomotor, dan efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering, pandangan kabur, dan gangguan saluran cerna.

      Efek samping lain yang jarang dari antihistamin termasuk hipotensi, efek ekstrapiramidal, pusing, bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi, palpitasi, aritmia, reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, angio-edema, dan anafilaksis, ruam kulit, dan reaksi fotosensitivitas), kelainan darah, disfungsi hepar dan glaukoma sudut sempit.

      Hapus
  17. prtanyaan no 2 yg kbetulan saya bhwa es etilendiamin yaitu trjdi penekanan pada CNS dan gastrointestinal. Artinya derivate antihistamin ini dpt mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf od otak.

    BalasHapus
  18. Saya akan mncoba mnjwab prtanyaan no 2 yg kbetulan saya singgung sedikit diblog saya "antihistamin" bhwa es etilendiamin yaitu trjdi penekanan pada CNS dan gastrointestinal. Artinya derivate antihistamin ini dpt mengganggu sistem pencernaan dan sistem syaraf od otak.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  19. Efek samping
    Mengantuk
    Mulut kering atau disfagia.
    Pusing.
    Sakit kepala.
    Nyeri perut.
    Sulit buang air kecil.
    Mudah marah.
    Penglihatan kabur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju, dimana efek yang paling sering terlihat adalah efek sedasi/mengantuk

      Hapus
  20. no 3
    Turunan etanolamin eter: difenhidramin, turunan etilendiamin: pirilamin maleat, turunan propilamin: bromfeniramin maleat, antihistamin cincin trisiklik: prometazin.

    BalasHapus
  21. Hai sindy, saya akan mencoba menjawab pertanyaan no. 7.
    1. H1-blockers (antihistaminika klasik)
    Mengantagonir histamin dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi alergi
    Dahulu antihistamin dibagi secara kimiawi dalam 7-8 kelompok, tetapi kini digunakan penggolongan dalam 2 kelompok atas dasar kerjanya terhadap SSP, yakni zat-zat generasi ke-1 dan ke-2.

    a. Obat generasi ke-1: prometazin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil), siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin, hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset).
    Obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek antikolinergis

    b. Obat generasi ke-2: astemizol, terfenadin, dan fexofenadin, akrivastin (Semprex), setirizin, loratidin, levokabastin (Livocab) dan emedastin (Emadin). Zat- zat ini bersifat khasiat antihistamin hidrofil dan sukar mencapai CCS (Cairan Cerebrospinal), maka pada dosis terapeutis tidak bekerja sedative. Keuntungan lainnya adalah plasma t⅟2-nya yang lebih panjang, sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. Efek anti-alerginya selain berdasarkan, juga berkat dayanya menghambat sintesis mediator-radang, seperti prostaglandin, leukotrin dan kinin.

    2. H2-blockers (Penghambat asma)
    obat-obat ini menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi tukak lambug usus guna mengurangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan pada terapi dengan kortikosteroida. Lagi pula sering kali bersama suatu zat stimulator motilitas lambung (cisaprida) pada penderita reflux.
    Penghambat asam yang dewasa ini banyak digunakan adalah simetidin, ranitidine, famotidin, nizatidin dan roksatidin yang merupakan senyawa-senyawa heterosiklis dari histamin.

    BalasHapus
  22. Efek Samping Antihistamin: Mengantuk adalah efek samping utama pada sebagian besar antihistamin golongan lama, walaupun stimulasi yang paradoksikal dapat terjadi meski jarang (terutama pada pemberian dosis tinggi atau pada anak dan pada lanjut usia). Mengantuk dapat menghilang setelah beberapa hari pengobatan dan jauh kurang dengan antihistamin yang lebih baru.

    Efek samping yang lebih sering terjadi dengan antihistamin golongan lama meliputi sakit kepala, gangguan psikomotor, dan efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering, pandangan kabur, dan gangguan saluran cerna.

    Efek samping lain yang jarang dari antihistamin termasuk hipotensi, efek ekstrapiramidal, pusing, bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi, palpitasi, aritmia, reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, angio-edema, dan anafilaksis, ruam kulit, dan reaksi fotosensitivitas), kelainan darah, disfungsi hepar dan glaukoma sudut sempit.

    BalasHapus
  23. Turunan etanolamin eter: difenhidramin, turunan etilendiamin: pirilamin maleat, turunan propilamin: bromfeniramin maleat, antihistamin cincin trisiklik: prometazin.

    BalasHapus
  24. Saya akan menambahkan pada point nmr 8. Antagonis H2 menghambat secara langsung kerja histamin pada sekresi asam (efikasi intrinsic) dan menghambat secara langsung kerja histamin pada sekresi asam,yang dirangsang oleh gastrin atau asetilkolin Iefikasi potensiasi).Jadi histamin memiliki efikasi intrinsik dan efikasi potensiasi,sedang gastrin dan asetilkolin hanya mempunyai efikasi potensiasi.Hal ini berarti bahwa histamin yang dapat meningkatkan sekresi asam, sedang gastrin atau asetilkolin hanya meningkatkna sekresi asam karena efek potensiasinya dengan histamin.

    BalasHapus
  25. No 6
    Sama seperti obat-obat lain, antihistamin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang mungkin umum terjadi setelah mengonsumsi obat antialergi ini adalah:

    Mengantuk,Mulut kering, atau disfagia,Pusing,Sakit kepala,Nyeri perut,Sulit buang air kecil,Mudah marah,Penglihatan kabur.

    BalasHapus
  26. Pertanyaan no. 3. Turunan etanolamin eter: difenhidramin, turunan etilendiamin: pirilamin maleat, turunan propilamin: bromfeniramin maleat, antihistamin cincin trisiklik: prometazin

    BalasHapus
  27. nomor 3 yaitu, salah satu contoh obatnya adalah antazolin. efek samping yang ditimbulkan adalah penglihatan kabur dan iritasi mata.

    BalasHapus
  28. Pertanyaan no.2
    Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain. Perpanjangan QT interval diduga terjadi karena obat-obat tersebut menghambat saluran K+. Selain itu, juga dapat terjadi dermatitis alergik karena penggunaan topikal. Pada keracunan akut antagonis H1 , dapat terjadi suatu sindrom beruapa adanya halusinogen, ataksia, tidak adanya koordinasi otot, dan kejang.

    BalasHapus
  29. saya akan mencoba menjawab soal no. 7
    Antagonis-H1 generasi pertama
    1. Turunan eter aminoalkil
    - Difenhidramin HCI
    - Dimenhidrinat
    - Karbinoksamin maleat
    - Korfenoksamin HCl
    - Klemastin fumarat
    - Piprinhidrinat

    2. Turunan etilendiamin
    - Tripelenamin HCI,
    - Antazolin HCl
    - Mebhidrolin nafadisilat

    3. Turunan alkilamin
    - Feniramin maleat
    - Klorfeniramin maleat
    - Dimetinden maleat

    4. Turunan piperazin
    - Homoklorsiklizin
    - Hidroksizin HCl
    - Oksatomid

    5. Turunan fenotiazin
    - Prometazin HCl
    - Metdilazin HCl
    - Mekuitazin
    - Oksomemazin
    - Isotipendil HCl
    - Pizotifen hidrogen fumarat

    6. Turunan lain-lain
    - Siproheptadin HCl
    - Azatadin maleat

    Antagonis-H1 generasi kedua
    1. Terfenadin
    2. Akrivastin
    3. Astemizol
    4. Loratadin
    5. Setirizin

    Antagonis H2
    1. simetidin
    2. ranitidin HCl
    3. Famotidin
    4. roksatidin asetat HCl
    5. nizatidin

    BalasHapus
  30. untuk pertanyaan terakhir yaitu semua antagonis reseptor-H2 mengatasi tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat penghambatan reseptor histamin-H2. Obat ini dapat juga digunakan untuk mengatasi gejala refluks gastroesofagus (GERD). Meskipun antagonis reseptor-H2 dosis tinggi dapat digunakan untuk mengatasi sindroma Zollinger-Ellison, namun penggunaan penghambat pompa proton lebih dipilih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIMIA MEDISINAL

Natrium diklofenak Natrium (Na) diklofenak merupak an obat golongan Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAIDs). Na diklofenak digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, pembengkakan akibat peradangan , dan kekakuan sendi akibat artritis ( radang sendi ), seperti pada artritis reumatoid.     Mekanisme kerja obat golongan NSAID      Secara Umum Natrium Diklofenak bekerja dengan Menghambat Cyclooxygenase tidak secara selektif, yaitu dengan menghambat Cyclooxygenase 1 (COX-1) dan Cyclooxygenase-2 (COX-2), Sehingga menghasilkan penghambatan sintesis prostaglandin (yang merupakan mediator nyeri). Reaksi peradangan dan prostaglandin    Ada dua tipe COX yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 terdapat pada lambung, ginjal, usus dan trombosit sedangkan COX-2 pada makrofag( sel darah putih ). Prostaglandin yang terbentuk melalui COX-1 disebut prostaglandin protektif sedangkan dari COX-2 disebut prostaglandin inflamas...

Kimia Medisinal

Fenotiazin Obat Anti Psikosis adalah obat-obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa mempengaruhi fungsi-fungsi umum, seperti berpikr dan berkelakuan normal. Obat ini dapat meredakan emosi dan agresi, dan dapat pula menghilangkan atau mengurangi gangguan jiwa seperti : impian, halusinasi serta menormalkan perilaku yang tidak normal. Senyawa- senyawa trisiklik yang memiliki daya antihistamin dan antikolinergik yang tidak begitu kuat dan seringkali berdaya sentral kuat dengan efek neuroleptik.     fenotiazin , contoh obat : chlorpromazine (dosis 150-600 mg/hari), thioridazin (dosis 150-600 mg/hari), Trifluoperazin (dosis 10-15 mg/hari), perfenazin (12-24 mg/hari), Flufenazin (dosis 10-15 mg/hari). Mekanisme kerja : Memblokade Dopamine pada reseptor pasca sinaps neuron di otak, dan juga dapat memblokade reseptor kolinergik, adrenergic dan histamine. Untuk obat generasi pertama ( fenotiazin dan butirofenon), umumnya tidak ter...